Sabtu, 19 Februari 2011

mantra

Mantra bisa diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2001). Dalam sastra Melayu lama, kata lain untuk mantra adalah jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru dan tangkal. Mantra termasuk dalam genre sastra lisan yang populer di masyarakat Melayu, sebagaimana pantun dan syair. Hanya saja, penggunaannya lebih eksklusif, karena hanya dituturkan oleh orang tertentu saja, seperti pawang dan bomoh (dukun). Menurut orang Melayu, pembacaan mantra diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib untuk membantu meraih tujuan-tujuan tertentu. Secara umum, mantra dapat dibagi ke dalam empat jenis berdasarkan tujuan pelafalannya, yaitu: (1), mantra untuk pengobatan; (2), mantra untuk ‘pakaian’ atau pelindung diri; (3), mantra untuk pekerjaan; dan (4), mantra adat-istiadat (Majelis Peperiksaan Malaysia: 2005).
Dari segi bentuk, mantra sebenarnya lebih sesuai digolongkan ke dalam bentuk puisi bebas, yang tidak terlalu terikat pada aspek baris, rima dan jumlah kata dalam setiap baris. Dari segi bahasa, mantra biasanya menggunakan bahasa khusus yang sukar dipahami. Adakalanya, dukun atau pawang sendiri tidak memahami arti sebenarnya mantra yang ia baca; ia hanya memahami kapan mantra tersebut dibaca dan apa tujuannya. Dari segi penggunaan, mantra sangat eksklusif, tidak boleh dituturkan sembarangan, karena bacaannya dianggapa keramat dan tabu. Mantra biasanya diciptakan oleh seorang dukun atau pawang, kemudian diwariskan kepada keturunan, murid ataupun orang yang ia anggap akan menggantikan fungsinya sebagai dukun. Kemunculan dan penggunaan mantra ini dalam masyarakat Melayu, berkaitan dengan pola hidup mereka yang tradisional dan sangat dekat dengan alam. Oleh sebab itu, semakin modern pola hidup masyarakat Melayu dan semakin jauh mereka dari alam, maka mantra akan semakin tersisihkan dari kehidupan mereka. Berikut ini satu contoh mantra yang sering dibaca oleh suku Laut ketika mereka melempar pancing ikan ke dalam air: Air pasang telan ke insang; Air surut telan ke perut; Renggutlah!; Biar putus jangan rabut.
Contoh-contoh mantra :
Bismillahirrahmanirrahim…..
tara taru bayu kukang…barakat aku manyambat la illaha ilallah..muhammad rasullullah……..mudahan si aluh handak lawan aku…jar arwah kai bahari malajari….
banyak budaya banjar nang kakanakan wahini kada tapi tahu lagi..
napa jar urang bahari bacacapatian kah,,,
sampai nang tabuat saraba ampat tuh jua….
urang banjar urang banua jua…………………

Ulun ada sauting mantra munmahandaki anak gadis urang. mantranya kira-kira kaya ini : Hung jabar hung, kayu padang rawa, jangan suka buhung, kawin kada kawa.Tawar Alah Tawar Muhammad, Allah yg pnya tawar muhammad yang manawar,berkat laiilahaillallah muhammad darasullullah.
Ada juga mantra hagan urang nang kada laku-laku (gadis tuha). Kira-kira kaya ini : Bismillahhirrahmanirrahim, Baik batali pada balarut, ada jua taka pinggir, baik balaki daripada pirut, ada jua kawan bapandir. barkat lailahaillallah muhammad darasulullulah.
Mantra untuk ’Pakaian’ atau Pelindung Diri
Mantra yang digunakan untuk menjaga diri sering juga disebut penangkal, tangkal atau azimat, biasanya dibacakan pada benda tertentu. Setelah pembacaan mantra, benda tersebut diyakini akan memiliki kekuatan gaib yang mampu melindungi pemakainya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa, pembacaan mantra pada benda tertentu yang akan dijadikan tangkal merupakan bagian dari cara untuk mentransformasikan energi atau kekuatan ke dalam benda tersebut. Selanjutnya, kekuatan yang terkandung dalam benda tersebut akan melindungi pemakainya Tangkal atau penangkal ini merupakan bagian dari upaya orang Melayu untuk mengatasi tantangan internal dan eksternal yang mereka hadapi, dan jenisnya cukup banyak di antaranya: (1) penahan atau penguat; (2) pelindung; (3) penunduk (4) pemanis dan pengasih (5) pembenci. Berikut ini beberapa contoh mantra pelindung diri:
1. Mantra Penahan atau Penguat
a. Mantra Pengeras Badan
Ya man, ya ras, ya Malik
Ya kuserahkan kepada kamu
b. Mantra Penahan Kulit
Kejang aku kejang rungkup
Kejang tunjang tengah laman
Kebal aku kebal tutup
Terkucap kulit tak berjalan
Terkunci terkancing tak mara

 

MANTERA PEMANGGIL JIN (DARI BUGIS)

Jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.
Jin dapat dilihat
Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat manusia.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Bukhari).
Jin dapat mengubah Bentuk
Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (syetan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika suku Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Makkah. Kedua, dalam perang Badr pada tahun kedua Hijriah. (QS Al-Anfaal 8:48).
Memanfaatkan kemampuan Jin
Tidak ada manusia yang bisa melihat jin, dan jika ada manusia yang mengklaim mampu melihat jin, maka orang tersebut sedang bermasalah. Bisa jadi dia mempunyai jin warisan atau pun jin yang didapatkan dari hasil belajar. Kemampuan ini sebetulnya dalam Islam dilarang untuk dimiliki, dan termasuk dalam kategori bekerja sama dengan jin yang menyesatkan (QS Al-Jin 72:6). Meski begitu, dalam kenyataannya, ada orang yang memiliki kemampuan memanggil jin. Melalui suatu doa atau biasa dikenal dengan mantera, manusia memanggil jin untuk suatu keperluan tertentu.
Mantera Pemanggil Jin
Mantera itu bisa dalam berbagai macam bahasa. Tergantung dimana keberadaan jin itu berada. Jin memiliki bahasa sendiri, tapi dia juga mengerti bahasa manusia dimana dia tinggal.
Mantera itu bisa hasil buatan manusia (ciptaan para Waliyullah, ahli hikmah atau bahkan dukun), tapi ada juga yang buatan jin yang diberikan ke manusia. Maksudnya, jin membuat mantera atau kata-kata yang berfungsi sebagai cara untuk memanggilnya. Ingat, jin berusia panjang, karenanya dia ingin memiliki semacam password untuk mengundang dirinya. Itulah yang dikenal sebagai mantera.
Sekaitan dengan ini, Misteri mendapatkan sebuah mantera pemanggil jin yang berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Tetapi uniknya, jin yang didatangkan ini tergolong jin baik karena berguna untuk membantu memulihkan kesehatan seseorang.
“Pada masa lalu, orang-orang yang biasa bekerja di ladang atau mencari kayu di hutan tentu sangat menguras tenaga,” kata Andi Azwira kepada Misteri. “Untuk memulihkan tenaganya, mereka biasanya mendatangi dukun pijat.”
Rupanya, dukun pijat (urut) ini dalam kerjanya tidak sekadar dengan kemampuannya sendiri, melainkan juga mendatangkan jin.
“Ternyata hasil pijatan dengan bantuan jin ini lebih maksimal,” lanjut Azwira. Menurutnya, jin itu akan merasuk ke dalam raga sang dukun pijat tersebut. Seketika saja, sang dukun akan memijat pasien dengan kemampuan maksimal.
Berikut manteranya:
Undu-undu nafasemu. Undu-undu batimu. Undu-undu nadimu.
Menurut Azwira, meski tampak sederhana lafal mantera itu, tetapi jin yang didatangkan cukup membantu manusia yang membutuhkan. Bahkan dalam arena olahraga, seperti sepakbola, beberapa dukun pijat yang disiapkan untuk mengantisipasi pemain yang terkilir, ada yang menggunakan mantera tersebut. AGUS SISWANTO




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar